Ikuti Kami

Opini dan Artikel

Masih Relevankah Riau Merdeka Atau Daerah Istimewa Riau?

Muhammad Yunus
INILAHKAMPAR.COM – Dari Kongres Rakyat Riau I pada tahun 1956 yang menuntun Riau ditetapkan sebagai sebuah  Provinsi. Terus bersuara ke Kongres Rakyat Riau II pada tahun 2000 untuk menuntut Riau Merdeka. Sampai pada Maklumat  Deklarasikan Daerah Istimewa Riau (DIR) pada Tahun 2025 ini adalah buah dari ketidakpuasaan Rakyat Riau terhadap Pemerintahan Republik Indonesia dari zaman ke zaman.
Riau dengan kekayaan yang berlimpah. Dibawah minyak diatas minyak. Tidak sedikit Rakyat Riau yang masih berkeringat bahkan bermandikan minyak dibawah terik matahari untuk mengais rezeki sebagai Buruh Pabrik, Nelayan ditengah lautan, Petani di sudut hutan bahkan Kuli di pinggir pasar. Meskipun kini sudah ramai pula Tuan dan Puan Riau yang menjadi Pegawai Negeri Sipil atau diangkat menjadi  P3K dengan pakaian yang disterika serta disirami parfum berlimpah dipagi buta. Amboi Amboi Anak Siapa. kata Tuan Al-Hafz dalam lirik lagu berjudul Amboi.
Namun Condo Lai Yang Tagilan Di Ati, Tasontung Didado bak pepatah adat dikampar. Condo Lai Bonau Kan Dibaco, Luwi Kan Disobuik. Lebih lanjut.
Riau dengan kekayaan yang berlimpah. Mampu menghasilkan pendapatan dari sektor minyak bumi pada tahun 2024 sebesar Rp72 triliun. Belum perkebunan kelapa sawit dan sebagainya. Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau menyatakan bahwa Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau pada tahun 2024 mencapai Rp 1.112,48 triliun. Tidak heran Pendapatan bersih Negara di Riau pada tahun tersebut mencapai Rp 28,75 triliun.
Pertanyaannya, masih relevankah Riau Merdeka Atau Daerah Istimewa Riau?
Bung karno dan Bung Hatta pernah berdebat tentang bentuk Negara. Bunga Hatta menginginkan Negera Federasi karena akan ada ketimpangan dikemudian hari antar daerah-daerah karena kepemimpinan hanya terpusat di Jakarta. Sedangkan Bung Karno ingin Negara kesatuan. Dalam Film biopik “Soekarno” (2013) yang disutradarai oleh Hanung Bramantio. Bung Karno dengan penuh keyakinan menyatuhkan Indonesia atas dasar kesamaan nasib sebagai bangsa yang terjajah.
Akhir-akhir ini ketidakpuasaan itu semakin  menggema. Berita lokal dan nasional memampang pernyataan dan tulisan tentang keistimewa Riau yang telah diberikan ke pusat. Namun lagi-lagi pertanyaannya masih relevankah Riau Merdeka Atau Daerah Istimewa Riau?
Mosi Integral Mohammad Natsir Tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah proses perenungan panjang dari seorang Muslim Negarawan. Penyerahan kedaulatan Kesultanan Siak Sri Indrapura oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Republik Indonesia adalah pengakuan yang penuh kesadaran terhadap eksistensi Republik Indonesia.
Bila kita pandang APBD murni Riau pada tahun 2025 sebesar Rp. 9,696 Triliun maka akan sangat miris dan bertolak belakang dari apa yang diberikan Riau untuk Indonesia. Namun bila kita pandang secara komprehensif dari Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Desa (DD) yang masuk ke Riau. Maka di tahun 2025 ini akan ditemukan angka sebesar Rp32,79 triliun. Tidak terhitung alokasi anggaran spesifik dari APBN untuk Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Program Nasional dan Program dari berbagai kementerian yang dapat dirasakan oleh Rakyat Riau. Angkanya tidak kalah fantastik.
Gertakan terhadap pusat dengan gumam Riau Merdeka Atau Daerah Istimewa Riau. Hanya akan membuat luka yang kering, mengangah, basah dan perih kembali. Pun Riau, Tidak dapat apa-apa. Waktu dan tenaga terkuras. Sedangkan politisi lokal dan kepala daerah dari provinsi lain gencar melobi pusat untuk kepentingan daerahnya.
Teriak atau angkat senjata hanya akan menggoreskan luka dan meneteskan darah. Tidak tentu juga bila merdeka atau istimewa, Riau gemilang seperti Malaysia atau terbilang ketimbang Singapore dan Brunai Darussalam. Kembali ke pertanyaannya: Masih Relevankah Riau Merdeka Atau Daerah Istimewa Riau?.
Bak memakan buah kepayang, Sayang-sayang buah kepayang, dimakan mabuk, dibuang sayang. Eloklah disimpan jua. Bukan karena tidak cinta dengan Riau, melainkan dengan Indonesia, Riau akan tetap tumbuh dan berkembang. Tetap berdaulat dan istimewa walau bukan sebuah Negara atau Daerah istimewa. Takkan Melayu Hilang Di Bumi, Bumi Bertuah Negeri Beradat kata Laksamana Hang Tuah.***
Oleh: Muhammad Yunus

Penulis dan Kontributor Resmi inilahkampar.com