Ikuti Kami

Nasional

Selain Palestina, Kondisi Minoritas Muslim India Jadi Sorotan BKSAP DPR RI di Sidang IPU Tanzania

Selain Palestina, Kondisi Minoritas Muslim India Jadi Sorotan BKSAP DPR RI di Sidang IPU Tanzania

ARUSHA, TANZANIA — Selain menyuarakan persoalan Palestina dan Sudan, kondisi minoritas Muslim di India turut menjadi perhatian Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI dalam rangkaian Sidang ke-153 Inter-Parliamentary Union (IPU) di Arusha, Tanzania.

Ketua BKSAP DPR RI, Dr. Syahrul Aidi Maazat, mengatakan persoalan yang dihadapi komunitas Muslim di India perlu mendapat perhatian masyarakat internasional. Hal itu disampaikannya dalam salah satu rangkaian kegiatan IPU yaitu pertemuan parlemen negara Islam yang dikenal dengan nama Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) pada Senin (6/10/2026) waktu setempat.

Menurut Syahrul Aidi, berbagai laporan lembaga hak asasi manusia internasional mencatat adanya tindakan diskriminasi, intimidasi dan kekerasan terhadap komunitas Muslim di India. Dalam sejumlah kasus, laporan tersebut juga menyoroti pembongkaran rumah, properti hingga tempat ibadah.

“Kondisi seperti ini tidak boleh luput dari perhatian masyarakat internasional,” ujar Syahrul Aidi.

Karena itu, ia mendorong parlemen negara-negara Muslim, khususnya melalui forum parlemen dunia, untuk menyatakan sikap dan menyerukan kepada Pemerintah India agar sungguh-sungguh menghormati hak asasi manusia, kebebasan beragama serta hak-hak kelompok minoritas.

“Kita menghormati kedaulatan setiap negara. Namun pada saat yang sama, penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia adalah nilai universal yang menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Syahrul Aidi menegaskan, tidak boleh ada seseorang yang kehilangan rasa aman hanya karena agama yang dianutnya. Demikian pula tidak boleh ada masyarakat yang mengalami intimidasi dan diskriminasi hanya karena mereka merupakan kelompok minoritas.

Menurutnya, persoalan kemanusiaan harus menjadi perhatian bersama parlemen dunia tanpa membedakan latar belakang agama maupun negara.

“Palestina harus kita suarakan. Sudan harus kita pedulikan. Dan penderitaan minoritas Muslim di berbagai belahan dunia juga tidak boleh kita abaikan,” tegasnya.

Dari Arusha, Tanzania, Syahrul Aidi menyerukan agar parlemen dunia tidak hanya berbicara mengenai demokrasi dan tata kelola pemerintahan, tetapi juga berdiri teguh dalam memperjuangkan keadilan, kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak asasi setiap manusia tanpa diskriminasi.***